Meninggalkan
semua ini memang berat rasanya. Tapi keinginanku untuk mewujudkan hajat orang
tua lebih besar lagi. Hanya satu keinginanku saat ini. Memberikan kado terindah
yang selama ini menjadi keinginan tertinggi bapak dan ibu. Pergi haji. Mungkin jika
dipikir secara nalar, dalam waktu kurang dari 2tahun, mana bisa nabung sebanyak
itu? Tapi dengan niat dan doa, tidak ada yang tidak mungkin. Alloh SWT Maha
Mengetahui apa yang ada dalam hati kita, Dia Maha Melihat usaha-usaha kita. Dia
Maha Mendengar doa-doa tulus yang kita panjatkan tak pernah lelah setiap
harinya. Dia Maha Berkehendak. Yaa…Alloh, ridhoMu aku harapkan. Ridhoilah niat baik
hamba ini. Mudahkanlah jalan hamba untuk mewujudkan harapan terbesar bapak dan
ibu. Amin….
Sabtu, 01 Oktober 2011
Jumat, 30 September 2011
Suatu Waktu......
Ada suatu waktu disaat kita merasa nyaman dengan diam...
Dalam diam itu kita akan lebih terjaga. Lebih terjaga dari perkataan yang sia-sia. Yang mungkin saja dapat menyakitkan orang lain.
Dalam diam ada perenungan diri. Flashback kejadian-kejadian masa lalu. Akhirnya tersadar, proses yang telah kita lalui selama ini sudah sangat panjang. Proses yang akan sangat berarti untuk kehidupan kita kedepan kelak.
Dalam diam ada kerinduan. Kerinduan akan masa tertentu yang ternyata kini baru kita sadari berharga. Masa tersebut kini tak bisa kembali. Hanya bisa kita putar ulang dalam otak kita.
Dalam diam ada empati. Kita bisa mengamati lingkungan disekitar kita. Mencoba memahami orang lain hanya dengan menatapnya. Mencoba merasakan seandainya kita menjadi dia, apa yang akan kita lakukan. Hal itu bisa mengasah kemampuan hati kita untuk bersyukur atas diri kita.
Dalam diam ada kreativitas. Semakin banyak hal yang bisa kita lakukan dalam diam. Tanpa banyak bicara. Diam dapat membantu kita dalam berkonsentrasi pada apa yang ada di hadapan kita saat itu.
Ada suatu waktu disaat kita merasa nyaman dengan diam....
N.B: Kejadian lucu pertama yang aku temui hari ini --> Bapak dan Ibu mengakui sikat gigi yang sama! ^_^
Dalam diam itu kita akan lebih terjaga. Lebih terjaga dari perkataan yang sia-sia. Yang mungkin saja dapat menyakitkan orang lain.
Dalam diam ada perenungan diri. Flashback kejadian-kejadian masa lalu. Akhirnya tersadar, proses yang telah kita lalui selama ini sudah sangat panjang. Proses yang akan sangat berarti untuk kehidupan kita kedepan kelak.
Dalam diam ada kerinduan. Kerinduan akan masa tertentu yang ternyata kini baru kita sadari berharga. Masa tersebut kini tak bisa kembali. Hanya bisa kita putar ulang dalam otak kita.
Dalam diam ada empati. Kita bisa mengamati lingkungan disekitar kita. Mencoba memahami orang lain hanya dengan menatapnya. Mencoba merasakan seandainya kita menjadi dia, apa yang akan kita lakukan. Hal itu bisa mengasah kemampuan hati kita untuk bersyukur atas diri kita.
Dalam diam ada kreativitas. Semakin banyak hal yang bisa kita lakukan dalam diam. Tanpa banyak bicara. Diam dapat membantu kita dalam berkonsentrasi pada apa yang ada di hadapan kita saat itu.
Ada suatu waktu disaat kita merasa nyaman dengan diam....
N.B: Kejadian lucu pertama yang aku temui hari ini --> Bapak dan Ibu mengakui sikat gigi yang sama! ^_^
Kamis, 29 September 2011
Antara Keinginan dan Kebutuhan
Tadi bangun jam 5.15, langsung subuhan terus nonton pengajian ustadz Solmed di S*TV. Tema hari ini tentang tawakal. Ketika kita sudah berusaha dan berdoa, kita serahkan hasil akhirnya pada Alloh, karena Alloh-lah yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hambaNya. Hanya kepada Alloh-lah kita patut menggantungkan keinginan-keinginan kita.
Lalu di pengajian itu juga membahas tentang pentingnya membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Terkadang manusia suka susah membedakan mana yang memang kebutuhan kita atau hanya keinginan saja. Terutama buat para cewek-ceweknya nih... Baru kemarin gajian, eh... tengah bulan depan udah abis aja... Biasa...suka laper mata! ^_^ Jalan-jalan, liat barang bagus sedikit langsung beli, padahal belum tentu saat itu kita lagi butuh barang tersebut. Ehhmm...kayaknya pelajaran budgeting emang harus bener-bener diterapkan nih, bukan cuma buat yang udah punya uang sendiri aja, buat pelajar or mahasiswa yang istilahnya 'masih nodong ke ortu' pun juga penting.
Beberapa waktu yang lalu aku sempet liat talkshow tentang cara membagi-bagi dana pengeluaran. Sebenarnya sih...ini pembahasan tentang keuangan rumah tangga, tapi gak beda jauh lah sama keuangan pribadi. Intinya (weh...jd ketularan pak Boz nih! hehe), begitu terima gaji, uang kita pilah jadi 4, untuk simpanan (yg ini gk boleh diganggu gugat dan gk boleh diambil2), untuk pengeluaran rutin (ex:sabun, kosmetik dan sebangsanya, atau biaya listrik dan kos buat yang nge-kos), untuk entertaining (ex: biaya buat karaokean, buat piknik, dll), dan yang terakhir untuk ZIS (Zakat, infak, sodaqoh). Dengan memilah pengeluaran menjadi empat pos tadi, setidaknya kita sudah belajar untuk menjadi bijak dalam mengelola pengeluaran kita agar nantinya gak 'kebobolan', tengah bulan udah kasbon sama ortu lagi (hehe...yg ini curhat! ^^). Latihanlah mulai dari sekarang, mulai belajar untuk memahami diri sendiri, ketika lagi pengen beli sesuatu, kita harus paham, sebenernya ini kebutuhan atau hanya keinginan aja, berpikir jauhlah ke depan. Jangan hanya menurutkan hawa nafsu aja (yg ini curhat lagi! ^^). Okey??
Lalu di pengajian itu juga membahas tentang pentingnya membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Terkadang manusia suka susah membedakan mana yang memang kebutuhan kita atau hanya keinginan saja. Terutama buat para cewek-ceweknya nih... Baru kemarin gajian, eh... tengah bulan depan udah abis aja... Biasa...suka laper mata! ^_^ Jalan-jalan, liat barang bagus sedikit langsung beli, padahal belum tentu saat itu kita lagi butuh barang tersebut. Ehhmm...kayaknya pelajaran budgeting emang harus bener-bener diterapkan nih, bukan cuma buat yang udah punya uang sendiri aja, buat pelajar or mahasiswa yang istilahnya 'masih nodong ke ortu' pun juga penting.
Beberapa waktu yang lalu aku sempet liat talkshow tentang cara membagi-bagi dana pengeluaran. Sebenarnya sih...ini pembahasan tentang keuangan rumah tangga, tapi gak beda jauh lah sama keuangan pribadi. Intinya (weh...jd ketularan pak Boz nih! hehe), begitu terima gaji, uang kita pilah jadi 4, untuk simpanan (yg ini gk boleh diganggu gugat dan gk boleh diambil2), untuk pengeluaran rutin (ex:sabun, kosmetik dan sebangsanya, atau biaya listrik dan kos buat yang nge-kos), untuk entertaining (ex: biaya buat karaokean, buat piknik, dll), dan yang terakhir untuk ZIS (Zakat, infak, sodaqoh). Dengan memilah pengeluaran menjadi empat pos tadi, setidaknya kita sudah belajar untuk menjadi bijak dalam mengelola pengeluaran kita agar nantinya gak 'kebobolan', tengah bulan udah kasbon sama ortu lagi (hehe...yg ini curhat! ^^). Latihanlah mulai dari sekarang, mulai belajar untuk memahami diri sendiri, ketika lagi pengen beli sesuatu, kita harus paham, sebenernya ini kebutuhan atau hanya keinginan aja, berpikir jauhlah ke depan. Jangan hanya menurutkan hawa nafsu aja (yg ini curhat lagi! ^^). Okey??
Sabtu, 24 September 2011
Menghabiskan malam ini (24 September 2011)
22.05 WIB
Gak kerasa udah jam segitu aja...akhir-akhir ini waktu terasa cepett...banget... Ada sebuah rutinitas semenjak 2 bulan yang lalu. Ya, 2 bulan yang lalu. Gak nyangka juga. Tapi, bersyukur banget bisa jadi bagian dari keluarga besar ini. Punya temen-temen 'guyon' baru... Setidaknya aku udah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Alhamdulillah...
Hmmm...nulis apa lagi ya? yang pasti, pikiranku saat ini lagi kacau banget. Gak karuan. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Terlalu banyak mungkin. Overload!!! huaaa.... Alhasil, sekarang kalo naik motor suka gak konsen. Naik motor, pikiran gak tau kemana. Sampe-sampe tadi pulang kantor ngelakuin hal terbodoh! aku sampe lupa cara nyalain motor sendiri! Parah! Naik matic, nyalainnya ky mtor biasa, gak ngerem dlu. Mana bisa nyala coba?? Haduh...malu aku sama satpam-satpam yang lagi jaga! ^^
Tapi gapapa, dimaklumi kok... (setidaknya waktu itu lagi pake masker, jd gk keliatan banget muka malunya! hehe)
22.17 WIB
Niat nonton acara musik "Harmoni" di SCTV __Edisi Wali. Tapi setengah hati nontonnya (baca:sambil nge-blog). Pengen curhat, tapi kayaknya waktunya kurang pas. Dan juga belum nemu orang yang pas buat diajak curhat. Jadi disimpen sendiri dulu aja dehhh...
Eh, ada sms dari Cnul. Kenalin, dia itu sahabat aku sejak SMP sampe sekarang. Dia nanyain, "Sis, menurut kamu mending nikah di rumah ato di gedung ya?". Haduuhh...kenapa semua pada ngomongin nikah sih? Tadi waktu dijalan habis jemput ibu, beliau juga ngomongin gitu, "Besok kamu nikahnya dirumah aja ya? Biar gampang ngatur konsumsinya. Dibikin 3 hari sekalian juga boleh. Eh, tapi kalo kamu dapet calon kary.Bank, di gedung juga boleh, gedung BPD aja bagus. Kalo dapet tentara, ntar di gedung Brimob yang di Sokaraja itu. Disana gedungnya luas, parkirannya juga...". Ehmm....cm bisa senyum aja dengernya. Tapi udah gak heran, Ibu emang udah sejak setahun yang lalu juga udah ngerancang desain mulai dari kebaya, dandanan (sampe bela-belain kursus rias manten, yaahh...walopun cuma aktif 3bulanan aja..hehe), acaranya (pengen pake tabuh2an rebana plus nyanyian nasyid juga!), sampe makanan apa aja yang mau dihidangin. Ckckck...heran saya.. Tapi, makasih banyak buat perhatian ibu...jadi makin sayang deh sama ibu! hehe
Sudahlah, cukupkan sampe disini ceritanya. Mbok malah nanti tambah ngelantur ceritanya. Secara udah mulai malem dan pasti mulai mellow juga! hehe
Met menghabiskan malem minggu semua... ^_^
Gak kerasa udah jam segitu aja...akhir-akhir ini waktu terasa cepett...banget... Ada sebuah rutinitas semenjak 2 bulan yang lalu. Ya, 2 bulan yang lalu. Gak nyangka juga. Tapi, bersyukur banget bisa jadi bagian dari keluarga besar ini. Punya temen-temen 'guyon' baru... Setidaknya aku udah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Alhamdulillah...
Hmmm...nulis apa lagi ya? yang pasti, pikiranku saat ini lagi kacau banget. Gak karuan. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Terlalu banyak mungkin. Overload!!! huaaa.... Alhasil, sekarang kalo naik motor suka gak konsen. Naik motor, pikiran gak tau kemana. Sampe-sampe tadi pulang kantor ngelakuin hal terbodoh! aku sampe lupa cara nyalain motor sendiri! Parah! Naik matic, nyalainnya ky mtor biasa, gak ngerem dlu. Mana bisa nyala coba?? Haduh...malu aku sama satpam-satpam yang lagi jaga! ^^
Tapi gapapa, dimaklumi kok... (setidaknya waktu itu lagi pake masker, jd gk keliatan banget muka malunya! hehe)
22.17 WIB
Niat nonton acara musik "Harmoni" di SCTV __Edisi Wali. Tapi setengah hati nontonnya (baca:sambil nge-blog). Pengen curhat, tapi kayaknya waktunya kurang pas. Dan juga belum nemu orang yang pas buat diajak curhat. Jadi disimpen sendiri dulu aja dehhh...
![]() |
| Kapan yaa??? haaha |
Sudahlah, cukupkan sampe disini ceritanya. Mbok malah nanti tambah ngelantur ceritanya. Secara udah mulai malem dan pasti mulai mellow juga! hehe
Met menghabiskan malem minggu semua... ^_^
Rabu, 21 September 2011
ReNungan Sore...
Jika semua yang kita inginkan harus kita miliki,
darimana kita belajar keikhlasan?
Jika semua yang kita mau harus terpenuhi,
darimana kita belajar kesabaran?
Jika doa kita langsung dikabulkan,
darimana kita memaksimalkan kemampuan yang diberikan kepada kita?
Jika kehidupan kita selalu bahagia,
darimana kita dapat mengenal Alloh lebih dekat?
Tetap yakin bahwa segala ketentuan-Nya adalah yang terbaik untuk kita.
Dialah Alloh, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya...
Minggu, 16 Januari 2011
Bujang dan Putri Malaka
Bingung mau ngapain. Kehabisan bahan bacaan dan males juga ke perpus. Alhasil, iseng sms sahabat buat pinjem novel yg dia punya. Novel apa aja, yg penting yg menurut dia cocok untuk kubaca. Dibawainlah novel ini, eh...mungkin bukan novel tepatnya. Karena buku ini memberikan banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Bagaimana kita belajar ayat-ayat yang tersurat dalam Al-Qur'an melalui segala sesuatu yang ada di alam, segala kejadian sehari-hari dalam hidup kita. Berikut beberapa hikmah hidup yang menurut saya paling menarik dari buku ini:
- MAKAN BUBUR --> "Orang yang makan bubur dengan diaduk terlebih dahulu agar bumbunya merata dan terasa nikmat, maka sesungguhnya ia hanya menyukai takdir Alloh yang menyenangkan saja. Sedangkan orang yang makan bubur tanpa mengaduknya terlebih dahulu, maka sesungguhnya ia berusaha menyukai setiap takdir Alloh, apakah yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan dirinya".
- "Orang mukmin bila menikah dengan wanita yang ia cintai, maka ia akan sangat menyayanginya. Namun, bila ia menikah dengan wanita yang tidak ia cintai, maka ia akan menghormatinya dan memperlakukanya dengan baik".
- HUJAN --> "Hujan itu adalah perumpamaan dari petunjuk dan ilmu yang diturunkan bersama Rosululloh. Bumi melambangkan manusia yang dilambangkan ilmu dan petunjuk tersebut. Hujan yang turun di tanah yang baik dan tanah yang kering adalah perumpamaan bagi orang yang mempelajari agama Alloh dan mendapatkan manfaat darinya lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya. Sedangkan hujan yang turun di rawa-rawa merupakan perumpamaan bagi orang yang tidak peduli dengan ilmu tersebut dan tidak menerima petunjuk Alloh".
- MENYIRAM TANAMAN -->"Kalau setiap permohonan atau keinginan manusia dapat dengan mudah terwujud, justru itu dapat mematikan hatinya. Karena hatinya akan terlena lalu lupa bahwa Alloh-lah yang mengabulkan keinginannya itu. Padahal, adanya keinginan yang tidak terpenuhi bisa mengingatkan kita bahwa Alloh-lah Yang Maha Berkuasa atas segala kehendak dan Maha Berkehendak atas segala kekuasaan. Dengan demikian, kita akan selalu mengingat dosa kita, memohon ampunan-Nya, dan berdoa mengharap kebahagiaan. Inilah unsur-unsur penting bagi keimanan manusia."
- "Karena manfaat utama dari penyatuan dua orang yang saling mencintai dalam ikatan pernikahan adalah rasa syukur mereka kepada Alloh kelak. Sedangkan manfaat utama dari dua orang yang saling mencintai tapi tidak disatukan dalam ikatan pernikahan adalah kesadaran bahwa tidak semua kehendak mereka dapat terwujud karena ada kehendak Alloh Yang Maha Mengetahui siapa yang terbaik untuk menjadi pasangan mereka. Kemudian manfaat utama dari orang yang sangat mencintai seseorang yang tidak mencintainya adalah rasa cinta itu sendiri".
- MANDI -->"Tidakkan kalian tahu bahwa Nabi SAW pernah bersabda bahwa orang yang sholat lima waktu itu bagaikan orang yang mandi lima kali sehari di sungai yang berarus deras? Sholat yang Khusyu' dapat membersihkan hati kita dari kotoran-kotoran. Kotoran-kotoran akan ikut tersapu oleh takbir, tahlil, tasbih, dan doa yang senantiasa menyirami hati selama kita sholat. Selain itu, bilasan istighfar dan dzikir setelah sholat pun akan ikut membersihkan hati kita dari kotoran"
Selasa, 11 Januari 2011
Wanita yang Pertama Masuk Surga
Wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.
Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.
“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.
Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa.
Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.
Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.
“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”
Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”
Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”
“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”
Subhanallah.
(Re-Type from fadil.blogsome.com)
Langganan:
Postingan (Atom)







